Hello Japan: 12 hari Menyusuri Negara Sakura dari Osaka hingga Tokyo. Part 1: Osaka, Kobe, Nara
Dua belas hari di Jepang mungkin terasa singkat, namun cukup ideal untuk seorang first timer. Dalam waktu itu, setidaknya kita bisa menjelajahi kota-kota utama serta berbagai spot unik yang menarik.
Penerbangan ke Jepang
Untuk rute penerbangan, pulang-pergi dari bandara yang sama akan lebih hemat, tetapi karena tujuan kami mencakup Osaka dan Tokyo, opsi tersebut terasa kurang efisien. Waktu tempuh antara keduanya sekitar 2.5 – 3 jam dengan Shinkansen, dan harga tiketnya pun cukup mahal — hampir mencapai 100 euro per orang. Karena itu, pilihan paling efisien adalah mendarat di Osaka dan terbang pulang dari Tokyo, atau sebaliknya, selisih harga tiket tidak jauh berbeda dengan harga tiket Shinkansen, tetapi akan lebih efisien di waktu.
Transportasi selama di Jepang
Di setiap kota di Jepang tersedia berbagai pilihan tiket transportasi harian (24 jam). Beberapa kota seperti Osaka dan Nara juga menawarkan tiket 48 jam, sementara Tokyo memiliki opsi hingga 72 jam. Selain itu, ada juga kartu ICOCA dan PASMO yang bisa digunakan dengan sistem tap setiap kali naik transportasi umum.
Kami sendiri menggunakan kombinasi tiket: saat di Tokyo, kami memakai tiket 72 jam + 24 jam + kartu ICOCA, sedangkan di kota-kota lain cukup menggunakan ICOCA saja.
Sebagai catatan, untuk ICOCA ada deposit sebesar 500 yen yang bisa dikembalikan saat kartu dikembalikan. Namun… kartu hanya bisa dikembalikan di kota tempat pembelian — jadi karena kami membelinya di Osaka dan berakhir di Tokyo, kartunya tidak bisa direfund. Paling enak sebenarnya kalau punya Iphone. Karena ada appsnya dan tidak perlu deposit 500 yen. Jadi tidak ada dana yang tersisa, bisa dihabiskan semua.
Tambahan penting lainnya, ICOCA Kids hanya bisa dibeli di ticket counter bandara Kansai-Osaka, jadi sebaiknya langsung beli begitu tiba di Jepang.
Kota Tujuan: kemana saja?
Maunya pasti semua kota besar dikunjungi. Tapi karena keterbatasan waktu maka kami memutuskan untuk mengunjungi: Osaka, Kobe, Nara, Kyoto, Tokyo, Nikko. Dengan based penginapan di Osaka, Kyoto dan Tokyo. Osaka dan Kyoto sebenarnya tidak terlalu jauh. Bisa ditempuh dalam waktu 30 menit – 1 jam dengan kereta regional, jadi bisa menggunakan ICOCA saja.
Kalau tidak mau terlalu banyak pindah pindah karena banyak bawa koper bisa juga menginap di salah satu kota. Karena kami travel light, kami tidak masalah untuk pindah pindah kota geret geret koper. Kalau mau lebih praktis bisa juga pakai jasa pengiriman koper, sekitar 1500 – 2000 yen per koper.
Osaka: 4 hari 3 malam
Di osaka kami menginap 4 hari 3 malam, dengan dua hari di antaranya digunakan untuk day trip ke Kobe dan Nara. Dari airport kami memutuskan untuk naik bis, karena tempat berhentinya lebih dekat ke hotel kami dari pada naik kereta. Selain itu kalau naik bis tidak perlu repot cari cari eskalator atau lift untuk koper. Karena tempat berhentinya di halte bus bukan dibawah tanah.
Hotel yang kami pilih terletak di sekitar Dotonbori area, tujuannya supaya gampang untuk kemana mana dan tidak habis di jalan waktunya. Harga mungkin agak sedikit lebih mahal dari pada hotel di pinggiran kota. Tapi kalau mau jalan jalan ke pusat kota sangat dekat dan kalau mau pulang ke hotel dulu sebentar untuk beristirahat sebelum jalan lagi juga gampang. Sebagai catatan, hotel-hotel di Jepang umumnya menyediakan piyama, jadi kalau ingin menghemat bawaan, tidak perlu repot membawa baju tidur sendiri. Kebanyakan hotel juga menyediakan common microwave di tiap lantai, karena banyak makanan siap saji dari konbini (mini market di jepang seperti 7-11 atau lawson) yang cuma tinggal dimasukkan di microwave sebelum ready to eat.

Osaka
Sightseeing: Osaka Castle, Dotonbori, Shinsaibashi, Kuromon Market, Nipponbashi Den Den Town, Osaka Expo
Osaka Castle, mengunjungi kastil di Jepang ternyata jauh berbeda dengan kastil kastil di Jerman, Kastilnya ada AC nya hahahaha. Kami kaget waktu pertama masuk ke dalam kastil karena bayangannya sepert kastil di Jerman, jadi sudah siap siap bakal panas karena kami kesana pas tengah hari. Untuk tiket masuk, beli saja online. Kami beli online on the spot, karena melihat antrian di tiket counternya yang panjang sekali. Kalau beli online bisa langsung skip antrian dan masuk lewat pintu terpisah.

Dotonbori dan Shinsaibashi bisa dibilang jantungnya Osaka. Deretan toko, restoran, dan lampu neon yang gemerlap membuat area ini selalu hidup, siang maupun malam. Suasananya benar-benar khas Jepang — ramai tapi menyenangkan. Bagi yang suka berbelanja dan jajan, dua kawasan ini adalah surga; dari merek terkenal hingga butik lokal, dari street food sampai fine dining, semuanya ada. Kami sendiri lebih banyak window shopping, berjalan santai sambil menikmati keramaian dan hiruk pikuk suasana kota. Kalaupun makan, kami memilih yang sudah jelas ada halalnya.


Billboard Glico ini heboh sekali di sosial media, pas melihat aslinya ya biasa biasa saja sih. Tapi ya memang begitulah, jangan terlalu percaya sama semua yang ada di sosial media. Letaknya ada di jembatan di antara Dotonbori dan Shinsaibashi. Rame banget ya orang disini yang foto foto, termasuk kami, buat syarat aja sudah sampai di depan Glico hehehe. Secara umum daerah Dotonbori ini memang ramai sekali, jadi kalau bawa anak kecil, peganglah dengan baik, jangan sampai kebingungan nanti cari carian.

Tidak jauh dari sana, Kuromon Market menawarkan pengalaman kuliner yang tak kalah menarik. Pasar ini dipenuhi dengan jajanan segar dan masakan khas Jepang — dari grill seafood, sushi, Kobe beef, tendon , hingga ramen dengan kuah gurih yang menggoda. Bagi kami yang hanya mengkonsumsi masakan halal, kami harus memastikan terlebih dahulu dengan bertanya secara jelas apakah makanannya dan bahan bahannya halal atau tidak, karena rata rata masakan di jepang menggunakan soya sauce dengan alkohol/khamr atau mirin/sake.

Sementara itu, Nipponbashi Den Den Town menjadi destinasi wajib bagi para pencinta gadget dan kolektor barang elektronik. Kawasan ini dipenuhi toko-toko yang menjual perangkat baru maupun second hand dengan harga bersaing. Kami mampir ke sana karena anak saya ingin mencari ponsel bekas. Harganya memang cukup menggiurkan dibandingkan di Jerman, terlebih dengan tambahan tax free 10 persen. Selain elektronik, di area ini juga banyak toko anime, figur, dan retro games.
Kami juga menyempatkan diri untuk mengunjungi Osaka World Expo, ajang besar yang hanya diadakan setiap lima tahun sekali. Karena keputusannya cukup mendadak, kami tidak sempat melakukan booking untuk masuk ke paviliun, jadi semua harus antre langsung di tempat. Jika memang berencana untuk datang ke Osaka Expo, sebaiknya persiapkan dari jauh-jauh hari agar bisa memesan slot kunjungan ke paviliun terlebih dahulu — lumayan menghemat waktu antre. Beberapa paviliun yang sempat kami kunjungi antara lain Indonesia, Brazil, Qatar, UAE, dan Tajikistan.

Activity: Tea ceremony
Menurut saya, tea ceremony adalah salah satu pengalaman yang wajib dicoba saat berada di Jepang. Prosesi ini berlangsung sekitar satu jam, di mana pemandu akan menjelaskan sejarah asal usul matcha dan mencontohkan cara membuat matcha. Setelah itu, peserta mendapat kesempatan untuk mencoba membuat matcha sendiri. Teh yang sudah dibuat kemudian dinikmati bersama wagashi — kudapan manis khas Jepang yang rasanya sangat cocok dipadukan dengan pahitnya matcha.


Eating out – Halal only restaurant: Ayam Ya, Lanzhou Noodle, Muqam Uyghur Restauran, Indonesian Pavillion Osaka Expo and countless visit to kombini ( 7-11, lawson, family markt)



Kobe :
Sightseeing: Ikuta Jinja, Kobe Mosque, Kobe Beef Museum, Kitano Cho, Kobe center (Sannomiya Center Gai)
Ikuta Jinja adalah salah satu kuil Shinto tertua di Kobe, didirikan pada abad ke-3. Terletak di pusat kota, hanya sekitar 5 menit berjalan kaki dari Stasiun Kobe Sannomiya. Di sini pengunjung bisa menemukan mini Fushimi Inari yang mirip dengan versi Kyoto, lengkap dengan taman kota yang rindang dan sejuk. Di bagian depan kuil juga terdapat mata air yang bisa langsung diminum.

Dari Ikuta Jinja bisa jalan kaki ke Kobe Mosque sekitar 15 menit. Kobe Mosque adalah masjid pertama yang dibangun di Jepang, sejak tahun 1935. Terletak di area Kitano, masjid ini menjadi simbol komunitas Muslim di Kobe. Arsitekturnya unik dengan gaya Moorish, dan meskipun berada di tengah kota, suasananya cukup tenang. Masjid ini terbuka untuk pengunjung non-Muslim pada jam tertentu, sehingga bisa belajar sedikit tentang sejarah Islam di Jepang.

Dari Kobe Mosque, kami lanjut ke Kobe Beef Museum, yang terletak tepat di sebelah Starbucks Kitano. Bangunan Starbucks ini sangat unik, karena merupakan gedung tua dari awal 1907 yang direnovasi.

Kobe Beef Museum memamerkan sejarah dan proses produksi Kobe beef, termasuk cara peternakan sapi berkualitas tinggi hingga metode pemotongan daging yang khas. Di sini, pengunjung bisa belajar mengapa Kobe beef terkenal dengan teksturnya yang lembut dan marbling yang luar biasa. Dibawah museum terdapat kafe yang menjual snack dari kobe beef. Sayangnya karena tidak halal jadi kami tidak mencoba.

Tidak jauh dari Museum adalah pusat perumahan Kitano Cho atau disebut Ijinkan, rumah-rumah bergaya Barat peninggalan para pedagang dan diplomat asing pada era Meiji. Jalan-jalan di kawasan ini seperti berjalan mundur ke masa lalu, dengan arsitektur unik. Di kawasan ini juga terdapat sebuah kuil di atas bukit, dari mana pengunjung bisa menikmati pemandangan kota Kobe dari ketinggian.


Dari Kitano Cho, kami langsung menuju Sannomiya Center Gui, sekalian menuju stasiun kereta untuk kembali ke Osaka. Pusat perbelanjaannya di basement stasiun kereta. Suasananya lumayan ramai. kami hanya mampir sebentar karena saat itu memang tidak berencana berbelanja, jadi lebih menikmati atmosfernya sambil bersantai sejenak sebelum naik kereta kembali ke Osaka.
Eating out: Halal Sakura Kobe Beef
Restaurant halal cukup banyak di kobe. Tapi yang menyajikan kobe beef halal cuma ada 3, Tsuki Usagi, Misono dan Sakura. Dan yang menyediakan Abalone, cuma Misono dan Sakura. Menurut saya, rasa Kobe beef sendiri biasa saja, tidak seheboh yang saya bayangkan — mungkin karena saya memang tidak terlalu menyukai daging. Namun untuk Abalone, rasanya benar-benar luar biasa dan tak tertandingi, enak sekali!


Nara:
Kami mengunjungi Nara setelah check-out dari hotel di Osaka, dalam perjalanan menuju Kyoto — pilihan yang lebih efisien dari segi transportasi. Kami membawa koper dan menyimpannya di loker di Stasiun Nara, yang ternyata jauh lebih praktis dibanding menitipkannya di Nara Information Center. Di sana antreannya cukup panjang, sedangkan dengan loker, kami hanya perlu memasukkan koin dan selesai. Di dekat area loker juga tersedia mesin penukar koin, jadi sangat memudahkan.
Sightseeing: Nara park, Naramachi
Kunjungan ke Nara Park bisa dibilang “epic fail”. Kenapa? Karena anak-anak sudah terbiasa melihat rusa di belakang sekolah mereka — dan ternyata, rusa di sana tidak jauh berbeda! Bahkan, yang di dekat sekolah ukurannya lebih besar. Jadi, mereka pun kurang antusias saat diajak memberi makan rusa di Nara Park.

Naramachi was cute, tapi menurut anak-anak, “mirip deretan town house saja, Bun, nggak ada yang terlalu spesial.” Di area ini juga terdapat beberapa museum kecil yang bisa dikunjungi secara gratis.

Eating out: Nakatanidou, Susuranka
Nakatanidou menupakan toko traditional mochi yang terkenal karena menyediakan mochi pounding show. Rasa mochinya menurut saya biasa biasa saja. Tapi memang fresh, jadi berbeda dengan mochi kemasan. Anak anak gak ada yang doyan karena adanya cuma isi kacang merah. Akhirnya cuma saya dan suami yang makan. Harga 1 an nya 150 yen atau sekitar 1 euro kurang.

highlight kunjungan kami di Nara adalah makan di restoran Susuranka. Mapo tofu ramen dan chicken teriyaki-nya top! Perlu dicatat, tidak semua hidangan di restoran ini halal, tetapi mereka menyediakan menu halal khusus yang terpisah, jadi tetap aman untuk Muslim travelers. Saya sempat salah pesan telur, ada menu egg yolk, saya pikir telur kuning matang, ternyata kuning telur mentah, halaaaah!!


Recent Comments