Hello Japan: 12 hari Menyusuri Negara Sakura dari Osaka hingga Tokyo. Part 2: Kyoto
Kyoto: 3 hari 3 malam
Kunjungan ke Nara ternyata lebih singkat dari yang saya perkirakan. Sekitar pukul 16.00, kami sudah naik kereta menuju Kyoto. Perjalanan dari Nara ke Kyoto ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam. Setibanya di stasiun Kyoto, kami langsung menuju hotel di daerah Shijo Omiya. Kami memilih menginap di area ini selama 3 hari 3 malam karena terdapat akses kereta langsung menuju Arashiyama yang merupakan bagian dari rencana perjalanan kami di Kyoto, sehingga dapat menghemat waktu perjalanan.
Sightseeing: Nishiki Market, Kawaramachi Shopping District, Gion District, Yasaka Shrine, Ninenzaka, Sannenzaka, Manga Museum, Kyoto Mosque, Arasiyama, Philosopher’s Path, Fushimi Inari
Nishiki Market, yang juga dikenal sebagai “Kyoto Kitchen”, sekilas mirip dengan Kuromon Market di Osaka. Tempat ini menjadi surga kuliner yang menjual berbagai makanan khas Jepang sekaligus oleh-oleh tradisional. Yang paling menggoda tentu saja deretan sushi segar dan tendon yang menggugah selera. Hati-hati, dompet bisa cepat “menjerit” karena rasanya ingin mencoba hampir semuanya!
Tidak jauh dari Nishiki Market ada Kawaramachi Shopping District—surga bagi para pecinta belanja. Sepanjang area ini dipenuhi berbagai toko, mulai dari department store besar hingga butik dan toko suvenir khas Jepang. Kami sempat masuk ke beberapa tempat seperti Takashimaya, Uniqlo (wajib kalau berkunjung ke Jepang!), serta beberapa toko yang menjual oleh-oleh unik.
Menariknya, berbelanja di Jepang sebenarnya terasa cukup terjangkau, terutama jika mengonversi dari euro ke yen. Ditambah lagi, ada fasilitas tax-free sebesar 10% untuk pembelian di atas 5.000 yen (sekitar 30-an euro), jadi lumayan menghemat. Awalnya saya sempat tergoda untuk membeli tas branded secondhand yang terkenal banyak dan berkualitas di Jepang. Tapi entah kenapa, akhirnya malah malas sendiri, haha. Memang bukan tipe yang terlalu suka koleksi tas branded, jadi ya sudah dilewatkan saja.
Dari Kawaramachi Shopping District, perjalanan bisa dilanjutkan ke Gion District. Area ini terkenal sebagai salah satu tempat terbaik untuk merasakan suasana tradisional Kyoto, dengan jalanan khas, bangunan kayu, dan nuansa Jepang tempo dulu yang masih terjaga. Jika beruntung, kamu bisa melihat geisha atau maiko yang sedang berjalan menuju tempat kerja mereka—momen langka yang jadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.
Namun, penting untuk tetap menjaga etika. Jika ingin mengambil foto, pastikan untuk meminta izin terlebih dahulu. Hindari mengambil foto secara sembunyi-sembunyi atau bahkan mengejar mereka hanya untuk konten video—selain tidak sopan, hal ini juga sangat mengganggu.
Saat berada di Gion, jangan lewatkan untuk mampir ke Pontocho Alley. Gang sempit ini mungkin terlihat sederhana, tetapi di sepanjang kiri dan kanannya berjajar restoran khas Jepang dengan suasana yang sangat khas dan intim. Beberapa di antaranya juga menyediakan pilihan makanan halal, jadi bisa dijadikan pilihan tempat makan untuk wisatawan Muslim seperti kami.
Hanya saja sayangnya, saat kami berkunjung, kami sudah makan di restoran udon sebelumnya, jadi hanya bisa menikmati suasananya sambil berjalan-jalan. Karena kami datang sudah cukup malam, suasananya cukup ramai—banyak pekerja kantoran yang berkumpul untuk bersantai setelah jam kerja, serasa seperti menonton film film jepang!
Yasaka Shrine terletak tepat di sudut kawasan Gion dan menjadi salah satu landmark yang mudah dikenali di area ini. Kami mengunjunginya saat hari sudah gelap, dan suasananya terasa sedikit mistis namun tetap cantik. Pencahayaan dari lampu-lampu kuil menciptakan nuansa yang hangat dan dramatis, membuat tempat ini terlihat sangat fotogenik. Tidak heran jika banyak pengunjung yang berhenti untuk berfoto di sekitarnya.
Tidak jauh dari sana, terdapat Ninenzaka dan Sannenzaka—dua jalanan bersejarah yang terkenal dengan suasana tradisional Kyoto. Saat malam hari, area ini terasa lebih tenang dengan sentuhan suasana yang hampir seperti di masa lalu. Lampu-lampu yang menerangi sepanjang jalan menambah kesan klasik dan romantis, sekaligus sedikit misterius. Walaupun sudah malam, masih banyak orang-orang yang berjalan santai sambil menikmati suasana atau mengabadikan momen di spot-spot cantik sepanjang jalan ini.


Selesai dari Sannenzaka tidak terasa waktu sudah hampir pukul 22.00. Kami pun langsung bergegas menuju halte bus karena khawatir ketinggalan bus terakhir. Kalau sampai terlewat, satu-satunya pilihan adalah naik Uber.
Namun, setelah dipikir-pikir lagi, kenapa juga tidak sekalian naik Uber ya? Bisa jadi pengalaman seru mencoba Uber di Jepang. Apalagi mobil-mobilnya sering terlihat unik, dengan gaya klasik yang lucu. Ah, jadi sedikit menyesal juga!
Hari ke 2 di Kyoto kami mengunjungi Arashiyama. Objek wisata paling terkenal di Arashiyama tentu saja adalah bamboo forest-nya. Saat check-in, resepsionis hotel sudah mengingatkan kami untuk memakai lotion anti serangga dan nyamuk saat ke bamboo forest, karena saat itu sedang musim hujan.
Untuk menuju ke sana, kami hanya perlu naik satu kali kereta dari dekat hotel. Keretanya cukup unik—seperti kereta klasik dengan warna ungu. Dan perjalanan di tempuh dalam waktu 40 menit.

Setibanya di stasiun, kami berjalan kaki sekitar 10 menit dan langsung sampai di area hutan bambu. Begitu masuk, kami langsung disambut dengan pohon pohon bambu yang rimbun di kiri kanan jalan. Memang terasa teduh dan sejuk.

Bagi yang tidak ingin berjalan, tersedia juga becak Jepang atau jinrikisha. Awalnya kami sempat tertarik untuk mencobanya, tapi akhirnya urung karena merasa tidak tega—becak ini benar-benar ditarik oleh manusia, bukan dikayuh seperti di Indonesia.
Di dalam area hutan, terdapat beberapa shrine kecil. Kebetulan saat kami berkunjung, ada penduduk lokal yang sedang menjalankan ritual di salah satu shrine dengan mengenakan kimono. Momen itu terasa sangat spesial—melihat sekelompok orang Jepang berpakaian tradisional dan melakukan ritual dengan khidmat memberikan suasana yang damai dan autentik.

Selain bamboo forest, kami juga mengunjungi Monkey Forest dan Kimono Forest di Arashiyama—dua tempat yang memberikan pengalaman yang cukup berbeda.
Untuk mencapai Monkey Forest (Iwatayama Monkey Park), memang butuh sedikit usaha karena lokasinya berada di atas bukit. Jalurnya tidak terlalu jauh, sekitar 30 menit berjalan kaki, tapi cukup terasa karena harus menanjak. Apalagi saat itu cuaca sedang panas, jadi lumayan menguras tenaga dan bikin keringatan. Sesampainya di atas, perjuangan itu terbayar dengan pemandangan Kyoto dari ketinggian yang indah, ditambah pengalaman melihat monyet-monyet liar berkeliaran bebas. Namun, tetap harus berhati-hati—monyet di sini dikenal cukup agresif jika merasa terganggu, jadi sebaiknya tidak terlalu dekat atau mencoba menyentuh mereka.
Tempat terakhir yang kami kunjungi di Arashiyama adalah Kimono Forest, dan ini justru jadi salah satu favorit saya. Lokasinya memang tidak terlalu besar, tapi suasananya unik dan sangat estetik. Instalasi ini terdiri dari deretan tiang-tiang yang dibungkus kain kimono dengan berbagai motif dan warna yang cantik. Disusun menyerupai hutan kecil, tempat ini terasa sangat artistik dan memanjakan mata. Apalagi saat lampu mulai menyala, warnanya terlihat semakin hidup dan memberikan suasana yang sedikit magis.
Dibandingkan tempat lain, Kimono Forest mungkin tidak sepopuler bamboo grove, tapi justru di situlah daya tariknya—lebih santai, tidak terlalu ramai, dan cocok untuk menikmati suasana sambil berfoto dengan latar yang unik.
Bagi pecinta manga, wajib untuk memasukkan Kyoto International Manga Museum dalam itinerary. Tiket bisa dibeli secara online atau langsung di mesin tiket yang tersedia di lokasi.

Di dalam museum, kita bisa melihat sejarah perkembangan manga di Jepang yang dimulai sejak awal 1900-an.

Memang sebagian besar bukunya menggunakan bahasa Jepang, tetapi tetap menarik untuk dinikmati karena ilustrasinya yang khas. Di antara deretan koleksi, saya bahkan menemukan buku Doraemon versi bahasa Indonesia—langsung jadi nostalgia masa kecil (ketahuan deh umurnya, haha).

Dari Manga Museum, karena kebetulan hari itu adalah hari Jumat, kami langsung menuju Kyoto Mosque untuk menunaikan salat Jumat. Saat itu, masjid sedang dalam tahap perbaikan, sehingga area salat hanya tersedia di bagian bawah dan belum ada tempat khusus untuk wanita. Kami pun harus menunggu hingga salat Jumat selesai, yang diadakan sampai tiga kali karena keterbatasan ruang.
Beruntung sekali, ada pengurus masjid yang sangat baik melihat saya sedang menunggu. Beliau kemudian menawarkan tempat untuk salat di ruang penyimpanan makanan di lantai dasar. Di area ini juga terdapat toko bahan makanan halal, bahkan tersedia beberapa produk Indonesia. Menariknya lagi, salah satu pegawainya adalah orang Indonesia, jadi bisa menyapa dalam bahasa Indonesia!
Fushimi Inari Taisha adalah salah satu ikon paling terkenal di Kyoto yang wajib dikunjungi. Kuil ini dikenal dengan ribuan gerbang torii berwarna merah terang yang membentuk jalur panjang hingga ke puncak Gunung Inari. Begitu sampai di sini, suasananya langsung terasa magis sekaligus menenangkan—perpaduan antara spiritualitas dan keindahan alam.

Daya tarik utamanya tentu saja adalah lorong torii yang seolah tidak ada habisnya. Setiap gerbang merupakan donasi dari individu maupun perusahaan, dengan nama penyumbang yang terukir di bagian belakangnya. Semakin ke atas, jalurnya akan semakin sepi, jadi kalau punya waktu dan tenaga, sangat disarankan untuk naik lebih jauh agar bisa menikmati suasana yang lebih tenang dan autentik.
Perjalanan menuju puncak bisa memakan waktu sekitar 2–3 jam pulang pergi, tapi tidak harus sampai atas. Banyak spot cantik di sepanjang jalan yang sudah cukup untuk berfoto atau sekadar menikmati suasana. Bagi yang melanjutkan hingga puncak, akan menemukan beberapa shrine serta pemandangan dari ketinggian yang spektakuler, memberikan pengalaman yang lebih lengkap dan memuaskan.
Tips penting: datanglah pagi-pagi sekali atau menjelang sore untuk menghindari keramaian. Siang hari biasanya sangat padat oleh wisatawan. Jangan lupa pakai sepatu yang nyaman karena jalurnya cukup menanjak dan berupa tangga.
Di area bawah, dekat pintu masuk, juga banyak penjual makanan dan souvenir khas Jepang, jadi bisa sekalian kulineran ringan sebelum atau sesudah naik. Secara keseluruhan, Fushimi Inari bukan hanya soal foto-foto, tapi juga pengalaman berjalan menyusuri salah satu tempat paling ikonik dan spiritual di Jepang.


Philosopher’s Path jadi salah satu pengalaman tak terlupakan selama perjalanan kami di Kyoto. Kami datang ke sini di malam hari setelah pulang dari fushimi inari, karena awalnya saya pikir suasananya akan mirip seperti Ninenzaka dan Sannenzaka yang tetap cantik meski gelap. Ternyata… zonk banget!
Alih-alih romantis, area ini justru benar-benar gelap dan sepi. Jalurnya yang mengikuti kanal air hampir tidak terlihat jelas, ditambah minimnya pencahayaan membuat suasananya terasa cukup spooky. Bukannya menikmati pemandangan, kami malah jadi agak was-was sendiri sepanjang jalan—benar-benar beda jauh dari ekspektasi.
Padahal, Philosopher’s Path ini sebenarnya terkenal sangat indah, terutama di siang hari atau saat musim sakura, ketika deretan pohon di sepanjang kanal bermekaran dan menciptakan suasana yang tenang dan puitis. Tapi ya itu, salah timing jadi kurang maksimal menikmatinya.
Akhirnya, tanpa pikir panjang, kami langsung putar balik dan “mlipir” kembali ke Kawaramachi Shopping District dan Gion yang lebih terang dan ramai. Setidaknya, suasana kota yang hidup berhasil mengembalikan mood setelah pengalaman yang agak-agak horor tadi 😄.

Eating Out: Honolu’s Wagyu Udon, Salman and Sohel Halal Kitchen, stock up di local Supermarket/ Konbini, Yoshiya Arashiyama, Yuba & Cheese Arashiyama
Selama di Kyoto center, kami hanya sempat mencoba dua restoran—satu di area Gion dan satu lagi di dekat Kyoto Mosque. Sedangkan saat mengunjungi Arashiyama kami mencoba Yoshiya dan street food di dekat area restaurant. Walaupun tidak banyak, cukup memberikan gambaran soal pilihan makanan halal di Kyoto.
Di sekitar Gion, cukup banyak pilihan restoran halal. Khususnya di Saiseki-dori Street, terdapat beberapa restoran halal, bahkan ada juga yang menawarkan konsep omakase. Kami memutuskan mencoba Honolu’s Wagyu Udon. Setelah beberapa hari berturut-turut makan ramen, rasanya ingin sesuatu yang berbeda, jadi kali ini memilih udon. Tekstur mienya lebih tebal dan kenyal, dengan kuah yang hangat dan comforting—cocok banget untuk mengisi energi setelah seharian jalan kaki.

Untuk restoran kedua, kami makan di Salman & Sohel Halal Kitchen setelah selesai salat Jumat di Kyoto Mosque. Menunya lebih ke arah masakan Timur Tengah dan India. Secara rasa, menurut kami biasa saja, tidak ada yang terlalu spesial. Tapi tetap jadi pilihan yang cukup menyenangkan untuk variasi, terutama kalau sudah mulai rindu cita rasa non-Jepang setelah beberapa hari menikmati kuliner lokal.

Selain makan di restoran, kami juga beberapa kali membeli makanan di supermarket. Memang sedikit tricky karena tidak ada label halal, jadi harus lebih teliti membaca daftar bahan (ingredient list). Biasanya kami memilih makanan yang tidak mengandung daging serta menghindari bahan berbasis alkohol. Untungnya, pilihan tetap cukup banyak—terutama untuk menu berbahan ikan atau opsi vegetarian.

Ada juga trik menarik untuk berhemat: coba belanja di supermarket setelah pukul 19.00. Biasanya banyak makanan siap saji yang sudah didiskon, bahkan kadang bisa sampai 50%! Lumayan banget untuk menghemat budget makan selama perjalanan.
Kesimpulannya, mencari makanan halal di Kyoto center sebenarnya tidak terlalu sulit, terutama di area-area populer seperti Gion. Tinggal disesuaikan dengan selera—apakah ingin tetap menikmati makanan Jepang versi halal, atau sesekali “break” dengan masakan dari negara lain. Untuk pilihan yang lebih hemat, supermarket dan konbini seperti Seven Eleven atau FamilyMart juga bisa jadi andalan.
Di Arashiyama, sebenarnya ada beberapa pilihan makanan halal yang bisa dicoba. Dari beberapa opsi tersebut, saya akhirnya memilih makan di Yoshiya, terutama karena mereka menyediakan menu unagi (belut). Kebetulan selama di Jepang, saya belum sempat mencoba unagi karena di restaurant halal, somehow harganya lumayan mahal, nah di sini lumayan masuk akal harganya. Jadi ya sudah kapan lagi.

Saya dan suami pun memesan nasi unagi. Belutnya dimasak dengan cara dipanggang (grilled) dan dilapisi saus manis gurih, mirip seperti campuran soy sauce dan teriyaki. Rasanya benar-benar lezat—teksturnya lembut, sedikit smoky, dan berpadu sempurna dengan nasi hangat. Sederhana, tapi sangat memuaskan. Sementara itu, anak-anak tentu saja memilih menu favorit mereka: tendon dan katsu—yang serba digoreng. Renyah di luar, lembut di dalam, dan pastinya jadi comfort food buat mereka. Memang, porsinya tidak terlalu besar—bahkan bisa dibilang agak kecil, haha. Tapi secara keseluruhan masih cukup untuk makan siang kami.

Sebagai tambahan, di Yoshiya, mereka menyediakan tempat sholat untuk pelanggan, sehingga apabila kita makan saat waktu sholat telah tiba, kita bisa sholat sambil menunggu makanan datang.
Selesai makan, tepat di sebelah restoran, ada sebuah stall kecil yang menjual berbagai snack, salah satu counter ada yang memasang logo halal, Yuba and Cheese. Akhirnya kami memutuskan untuk mampir sebentar. Pilihannya kebanyakan gorengan seafood, dan karena penasaran, kami mencoba beberapa. Rasanya? “Ok lah”—tidak yang luar biasa banget, tapi cukup seru untuk dicoba, apalagi sebagai pengalaman jajan khas di Jepang.

Yang menarik, kami harus memesan lewat mesin terlebih dahulu—pilih menu, bayar, lalu keluar tiket. Setelah itu, tinggal menunggu sampai nomor kami dipanggil ketika pesanan sudah siap. Praktis, cepat, dan cukup khas Jepang.

Recent Comments